Saat ini PSSI sedang menjadi bahan pembicaraan paling besar di Republik Indonesia saat ini. Terutama setelah kejadian tadi malam yang sangat 'mengharukan' bagi para pejabat tinggi sebakbola indonesia yang dibekali dengan harta yang berlimpah dan juga dengan akal pikiran yang mungkin jauh di atas saya yg masih kelas 1 SMA. Disini saya sebagai manusia netral yang tidak mendukung pihak manapun, saya lebih mendukung KN ketimbang KELOMPOK 78 dari 'TK Indonesia'
seharusnya tidak perlu terjadi setelah kongres pertama PSSI di pekanbaru beberapa waktu lalu yang juga di akhiri dengan kekisruhan. Apalagi kongres PSSI semalam itu adalah penentuan bagi Indonesia untuk mendapatkan Ketua Umum baru atau mendapatkan sangsi dari FIFA, organisasi terbesar di sepakbola dunia.
Seharusnya, kongres PSSI semalam itu bisa menjadi awal kebangkitan pesepakbolaan Indonesia. Akan tetapi, karena adanya beberapa kelompok 'anak-anak TK' yang ikut serta menghadiri Kongres PSSI tersebut, Indonesia sekarang sudah sangat terancam dengan sangsi FIFA dimana Indonesia tidak akan bisa mengikuti kompetisi Internasional baik untuk Tim Nasional maupun untuk klub-klub indonesia untuk berpatisipasi dalam AFC Champions League maupun AFC Cup.
Di awali dengan kehadiran 'anak-anak TK' yang mungkin kita kenal dengan nama "KELOMPOK 78". Dari awal Kongres dimulai, mereka memang ssudah mulai berulah. Bahkanketika wakil dari FIFA yaitu Thierry Regennas menjelaskan kepada anak-anak TK tersebut mengenai mengapa tidak di terimanya pencalonan jagoan mereka yaitu AP-GT, para anak-anak TK tersebut tetap tidak ingin menerima keputusan tersebut. Mungkin itu disebabkan karena mereka belum pernah belajar PKn yang menjelaskan tentang kita harus menghargai hasil keputusan dari suatu musyawarah walaupun usul kita tidak di terima dalam suatu musyawarah.
Seiring berjalannya kongres tersebut pun anak-anak TK itu tetap menacaci, meleceh, atau sejenisnya kepada Thierry ataupun KN mengenai ketidakpuasan alasan dari Thierry mengenai penolakan dari jagoan mereka itu. KELOMPOK 78 itu pun terus mencoba untuk mengambil waktu kongres untuk mendesak Thierry ataupun KN untuk memaksakan agar jagoan mereka yaitu AP-GT untuk tetap di calonkan sebagai calon ketum PSSI 2011-2015. Hingga akhirnya seorang anggota Komite Normalisasi yaitu FX Hadi Ruyatmo pun keluar dari ruangan kongres karena sepertinya di sudah tidak tahan dengan kelakuan anak-anak TK tersebut yang sangat mengganggu berjalannya kongres.
Kira-kira sekitar pukul 21.00 WIB yang seharusnya di jadwalkan untuk voting untuk menentukan Ketum PSSI periode 2011-2015, akhirnya sang Ketua Normalisasi pun dengan hormat meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia untuk menutup kongres secara sepihak karena kondisi kongres yang sudah tidak kondusif lagi. Dan ini juga di sebabkan oleh si anak-anak TK dari KELOMPOK 78 yang ngotot banget buat maksain jagoan mereka.
Ya untuk itu, tentu kita semua sebagai rakyat indonesia sangat tidak menginginkan PSSI dijatuhkan sangsi oleh FIFA. Apalagi bulan depan yaitu bulan juni 2011 itu Tim Nasional Senior Indonesia yang sedang dalam penampilan terbaiknya akan menghadapi tahap awalh kualifikasi Piala Dunia 2014 di Brazil menghadapi Turkmenistan. Setelah itu, sekitar bulan November, para Garuda Muda Indonesia dari Tim Nasional Indonesia U-23 yang telah bersusah payah latihan militer di Batujajar akan mengikuti kompetisi Sea Games. Setelah itu wakil klub Indonesia dari Sriwijaya FC dan Persipura pun masih mengahrumkan nama Indonesia di kompetisi Asia yaitu di AFC Cup yang kali ini sudah mencapai babak 16 besar. Jadi bagaimana nasib mereka semua nantinya kalau PSSI terkena sangsi dari FIFA yang tidak memperbolehkan Indonesia tampil di kompetisi internasional, maka otomatis event-event yang saya tulis di atas tadi sudah gagal total bisa diikuti oleh Indonesia.
Pesan saya untuk para generasi muda sekarang, belajarlah dengan baik agar kalian tidak menjadi wakil rakyat yang menyerupai anak-anak TK seperti KELOMPOK 78. Dan bisa lebih menghargai sebuah musyawarah yang sudah di tentukan oleh pemimpin.
Kalau mungkin ada media yang membaca artikel saya tadi yang sedikit agak melecehkan anak-anak TK tersebut, saya siap tanggung jawab di depan mereka.
Oke! Thanks...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar